Pages

Pages - Menu

23 Mei 2013

3 Golongan Zat Pewarna Makanan

Pewarna Makanan


Warna dapat memperbaiki dan memberikan daya tarik pada makanan. Penggunaan pewarna dalam bahan makanan dimulai pada akhir tahun 1800, yaitu pewarna tambahan berasal dari alam seperti kunyit, daun pandan, angkak, daun suji, coklat, wortel, dan karamel. Zat warna sintetik ditemukan oleh William Henry Perkins tahun 1856, zat pewarna ini lebih stabil dan tersedia dari berbagai warna. Zat warna sintetis mulai digunakan sejak tahun 1956 dan saat ini ada kurang lebih 90% zat warna buatan digunakan untuk industri makanan. Salah satu contohnya adalah tartrazin, yaitu pewarna makanan buatan yang mempunyai banyak macam pilihan warna, diantaranya Tartrazin CI 19140. Selain tartrazin ada pula pewarna buatan, seperti sunsetyellow FCF (jingga), karmoisin (Merah), brilliant blue FCF (biru).
Zat warna/pewarna makanan secara umum dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : zat warna alami, zat warna yang identik dengan zat warna alami, dan zat warna sintetis.

1. Zat Warna Alami 

Zat warna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari tumbuhan,hewan, atau dari sumber-sumber mineral. Zat warna ini telah sejak dahulu digunakan untuk pewarna makanan dan sampai sekarang umumnya penggunaannya dianggap lebih aman daripada zat warna sintetis. Selain itu….
penelitian toksikologi zat warna alami masih agak sulit karena zat warna ini umumnya terdiri dari campuran dengan senyawa-senyawa alami lainnya. Misalnya, untuk zat warna alami asal tumbuhan, bentuk dan kadarnya berbeda-beda, dipengaruhi faktor jenis tumbuhan, iklim, tanah, umur dan faktor-faktor lainnya.
Bila dibandingkan dengan pewarna-pewarna sintetis
penggunaan pewarna alami mempunyai keterbatasan-keterbatasan, antara lain :
1.Seringkali memberikan rasa dan flavor khas yang tidak diinginkan
2.Konsentrasi pigmen rendah
3.Stabilitas pigmen rendah
4.Keseragaman warna kurang baik
5.Spektrum warna tidak seluas seperti pada pewarna sintetis.
Jenis zat warna alami yang sering digunakan untuk pewarna makanan antara lain adalah 

a. Karotenoid
b. Antosianin
c. Kurkum
d. Biksin
e. Karamel
f. Titanium oksida
g. Cochineal, karmin dan asam karminat


2. Zat Warna yang Identik dengan Zat Warna Alami

Zat warna ini masih satu golongan dengan kelompok zat warna alami, hanya zatwarna ini dihasilkan dengan cara sintesis kimia, bukan dengan cara ekstraksi atauisolasi. Jadi pewarna identik alami adalah pigmen-pigmen yang dibuat secara sintetisyang struktur kimianya identik dengan pewarna-pewarna alami. Yang termasuk golongan ini adalah karotenoid murni antara lain canthaxanthin (merah), apo-karoten (merah-oranye), beta-karoten (oranye-kuning). Semua pewarna-pewarna ini memiliki batas-batas konsentrasi maksimum penggunaan, terkecuali beta-karoten yang boleh digunakan dalam jumlah tidak terbatas.

3. Zat Warna Sintetis


Berdasarkan rumus kimianya, zat warna sintetis dalam makanan menurut “Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives” (JECFA) dapat digolongkandalam beberapa kelas, yaitu : azo, triarilmetana, quinolin, xanten dan indigoid (Tabel2). Kelas azo merupakan zat warna sintetis yang paling banyak jenisnya danmencakup warna kuning, oranye, merah, ungu, dan coklat, setelah itu kelastriarilmetana yang mencakup warna biru dan hijau.

Sumber : http://yogiehardianto.wordpress.com/2012/05/14/3-golongan-zat-pewarna-makanan/

 

24 Apr 2013

Finish of Product QC / QA - Uji Kadar Air

Kadar Air
  • DASAR ANALISA 
Kadar air adalah jumlah kandungan air yang terdapat dalam bahan. Prinsip penetapan kadar air dengan metode pengeringan (Thermogravimetri). Pada prinsipnya adalah mengusahakan penguapan air dari bahan dengan cara memberikan panas pada suhu tertentu (105oC) sampai bobot bahan konstan. 
  • PROSEDUR ANALISA
Menghaluskan sampel kemudian menimbang bahan sebanyak 5 gram. Menimbang cawan yang telah dipanaskan dengan oven. Pemanasan pertama selama 1 jam, pemanasan kedua selama 30 menit, pemanasan ketiga selama 30 menit dan seterusnya sampai tercapai bobot konstan (selisih 0,002 gram).


21 Apr 2013

Finish of Product QC / QA - Uji Kadar Abu

Kadar Abu
  • DASAR ANALISA
Abu merupakan residu bahan organik setelah dioksidasi atau dibakar pada suhu 525o-550oC. Prinsip kerjanya dengan mengabukan pada suhu 525o-550oC yang sebelumnya telah dipanaskan sampai tidak berasap.

Dry Ash                   : semua komponen menguap tinggal abunya (mineral).
Wet Digestion        : H2SO4 pekat + HNO3 pekat + HClO4 pekat
  • PROSEDUR ANALISA
Menghaluskan sampel kemudian menimbang bahan sebanyak 2 gram yang diletakkan dalam cawan porselin yang sebelumnya telah ditimbang. Panaskan di atas lampu spiritus sampai bahan tidak berasap. Masukkan bahan pada tanur pengabuan 525o±25oC sampai bahan berwarna putih abu-abu. Letakkan pada meja porselin sampai hangat dan masukkan ke dalam desikator. Dinginkan dan timbang.

Standar Mutu dan Karakteristik

Standar Mutu dan Karakteristik "MIE INSTAN"

Standar Mutu dan Karakteristik "BISKUIT"

20 Apr 2013

Finish of Product QC / QA - Uji Logam Berbahaya

UJI LOGAM BERBAHAYA

DASAR ANALISA
Ditetapkan sebagai jumlah kandungan logam (Cu, Pb, Hg, dan Ag) yang terdapat dalam sampel dan ditetapkan secara kuantitatif. Prinsip penetapannya yaitu abu sampel yang diencerkan lalu diasamkan kemudian ditambah Na2S pada tabung 1 dan tabung 2 ditambah K4(Fe(CN)6) + NaHCO3 lalu dibandingkan dengan pembanding.
Reaksi :
 

PROSEDUR ANALISA   
Menghaluskan sampel dan menimbang sampel sebanyak 5 gram. Mengarangkan sampel sampai tidak bersap, kemudian masukkan ke dalam tanur pengabuan untuk diabukan. Masukkan desikator selama ± 5 menit. Masukkan ke dalam gelas beaker kemudian tambahkan 10 ml H2O dan 1 ml HCl 30%. Masukkan larutan ke dalam 10 tabung reaksi masing-masing 1 ml. Kemudian ambil 1 tabung reaksi sebagai sampel ditambah Na2S 0,1N dan ambil 4 tabung reaksi sebagai sampel pembanding yang masing-masing juga ditambah Na2S dan untuk setiap tabung reaksi ditambahkan Pb(CH3COO)2, HgCl, CuSO4, AgNO3. Ambil 1 tabung reaksi lagi sebagai sampel ditambahkan NaHCO3 8% 0,5 ml dan K4(Fe(CN)6) 0,5 ml dan untuk setiap tabung reaksi ditambahkan Pb(CH3COO)2, HgCl, CuSO4, AgNO3. Bila warna dan keadaan sampel sama dengan pembanding maka sampel positif mengandung logam berat atau logam berbahaya.

Finish of Product QC / QA - Uji Kadar NaCl

Kadar NaCl

DASAR ANALISA
  • Persiapan Sampel
Sampel ditimbang untuk mengetahui bobotnya, dipanaskan sampai menjadi arang dan tidak berasap. Selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pengabuan (550o±25oC) hingga menjadi abu kemudian diencerkan dengan 25 ml H2O.
  • Penyaringan
Sampel diasaring sampai bebas NaCl. Indikatornya AgNO3.
  • Titrasi dengan AgNO3

PROSEDUR ANALISA
Menimbang 5 gram sampel. Dilakukan pengarangan hingga tidak berasap. Kemudian dimasukkan dalam tanur pengabuan (550o±25oC) hingga berwarna putih abu-abu. Tambahkan air 25 ml. Mengambil 25 ml larutan, ditambahkan 0,5 ml indikator K2CrO4 5%. Dititrasi dengan AgNO3 0,1N. TAT merah bata.